بسم الله الرحمن الرحيم


Selamat Datang


Istana Cerita sebuah blog berbahasa Melayu, sebahagian besarnya dalam bahasa Malaysia, namun ada beberapa kata yang saya ambil dari bahasa Indonesia dalam usaha memudahkan penyampaian. Ada kata yang jarang kita dengar, namun tetap dapat difahami setelah melihat seluruh isi ayat.

Istana Cerita terisi berbagai himpunan genre, sebahagian besarnya tentang pengalaman perjalanan dan foto kenangan dan selebihnya tentang hal-hal yang menarik pada pandangan penulis.

Penulis dedikasikan blog ini buat semua, khasnya kepada pengagung bahasa Inggeris yang semakin bercambah di negara kita tercinta, Malaysia. Dan mengajak mereka berfikir atau paling tidak bantu beri
ilham supaya mereka yakin betapa teks dalam bahasa Melayu juga boleh diolah dengan baik dan disusun cantik membentuk himpunan kata-kata yang tak kalah hebat berbanding bahasa-bahasa lain di dunia. InsyaAllah.

Sebahagian tulisan di sini ialah tulisan lama usungan dari laman multiply penulis yang kini sudah dibubar.

Sekian. Selamat memabaca





Aku dan Indonesia

Tulisan ini adalah balasan dari tulisan sahabat mayaku Bambang Priantono yang bertajuk Catatkan Melayu dalam Pikiranku
Bagiku kata INDONESIA banyak sekali pengertiannya. Lebih kurasa dekat berbanding SINGAPURA yang pada hakikatnya hanya terpisah oleh selat selebar satu kilometer. Aku seperti lebih bersaudara dengan Indonesia berbanding dengan Singapura biarpun sebenarnya saudaraku bertaburan di Kota singa itu.

Indonesia bagiku adalah ‘musuh’ yang tercinta, Indonesia bagiku adalah jiran rapat, Indonesia bagiku saudara kandung. Indonesia bagiku kuli hina. Indonesia bagiku guru agama.  Indonesia bagiku penebus maruah. Indonesia bagiku itu, ini dan apa saja………. Ah, terlalu banyak pengertiannya.

Mengimbau kenangan lalu, teringatku pesan ibu supaya jauhkan diri dengan Indonesia. Kononnya negara itu penghapus Melayu. Negara itu nagara penjajah. Kadang jenuh diri ini mendengar luahan hati ibuku pabila dia terkenang kisah lalu tatkala tentera Indonesia mendarat di pantai Pontian ketika slogan Ganyang Malaysia bergegar di Nusantara. Biarpun Ibuku berdarah Jawa, Berbahasa Jawa, jiwanya tetap Melayu. Kami anaknya terpengaruh sementara.

Bila menjelangnya Piala Thomas (Thomas Cup), rasa benci pada Indonesia semakin- meluap-luap. Benci pada pemainnya, benci pada penyokong fanatiknya. Semakin menggila rasa benci itu bila Malaysia kalah di tangan Indonesia. Entahlah…ada apa dengan Indonesia padahal Malaysia juga pernah kalah ditangan team lain.

Saat kemasukan beramai-ramai TKI ke Malaysia, rasa curiga pada orang Indonesia semakin menebal. (orang disini memanggil Indon). Semuanya buruk pada pandangan mata ini. Pantang ada kecurian, Indon dituduh; pantang ada pencabulan, Indon dituduh. Segala-galanya negatif tentang Indonesia. Anehnya, Indon juga yang dicari untuk meringankan pekerjaan. Pernah satu ketika, ayahku mempelawa seorang TKI tinggal serumah dengan kami, berbagai hasutan kami kemukakan pada ayah hinggakan TKI tersebut terpaksa tinggal sebatang kara dalam sebuah kebun getah. Zalimnya kami waktu itu. 

Lebih aneh, saat tibanya Maulidur Rasul atau apa saja hari kebesaran Islam, Ustaz (guru agama) dari Indonesia yang kami panggil untuk memberi ceramah. Berubah pula persepsi terhadap Indonesia kepada sifat positif. Seolah-olah ustaz dari Indonesia lebih layak berceramah, lebih berjiwa islam. Lebih mengesani.

Ketika sampainya RCTI dan SCTV ke Malaysia, rasanya kami di Johorlah yang paling beruntung. Kami dapat menonton siaran TV dari tiga negara biarpun hanya TV Malaysia dan Singapura yang lebih diminati. Ramai daripada kami yang tidak suka menonton TV Indonesia. Semuanya gara-gara bahasanya yang tidak enak didengar. Lucu dan kadang-kadang bikin ketawa. Terpaku melihat cerita (sinetron) luar yang semuanya berbahasa Indonesia. Cerita Hindi, Cina, Korea, malah Venezuela sekalipun, semuanya berbahasa Indonesia. Janggal dan Kaku.

Saat pulang kampung, Buletin Siang dan Seputar Indonesia menjadi habuan mata yang paling enak bagiku. Sungguh lucu bila melihat ayah yang semakin pandai meniru gaya percakapan Indonesia, Ibu seperti biasa menegah “Lie ….. alih TV3”  Mungkin akulah anak Malaysia yang paling gemar menonton siaran TV Indonesia hinggakan sentiasa mendengar leteran ibu selalu.

Sebenarnya bukan acara di TV Indonesia yang asyik, tapi bahasanya yang menarik perhatian. Aku cukup gemar mencari perbezaan kedua bahasa yang berasal dari akar yang sama ini. Bahasa yang satu akhirnya terpisah mengikut sempadan politik. Kedua negara mengayakan bahasanya mengikut acuan sendiri. Indonesia meminjam kata dari berbagai negeri sedang Malaysia masih Melayu asli. Akhirnya muncullah ungkapan seperti “Aku membutuhkanmu” ungkapan yang begitu romantis di Indonesia tetapi berbau porno di Malaysia (18 sx)

Acara yang aku gemari, Sergap saling tak tumpah seperti rancangan 999 di TV3. Sempat juga pening kepala mencari maksud bila pertama kali aku mendengar berita “tersangka ditemukan bersembunyi..” yang di dalam versi Malaysia bermaksud “tertuduh ditemui bersembunyi..” itulah sebahagian dari perbezaan ini.

Biarpun Bahasa Indonesia bukan lagi berbentuk asli, aku tetap gembira tidak terperi. Sekurang-kurangnya bahasa yang berakar Melayu ini terus subur hingga ke Papua. Sekurang-kurangnya menjadi penebus maruah bangsa Nusantara. Kerana penutur aslinya kini kian lemah dan kehilangan jati diri. Tanah Melayu kini tiada lagi………..

Mohon maaf sekiranya ada kata-kata ini menyinggung perasaan sahabat-sahabat dari Indonesia. Aku tidak bermaksud begitu. Percayalah.

30 ulasan:

  1. saya sendiri sering dapati perbedaan bahasa yang terdengar lucu, misalnya, "seronok", yang di Indonesia cenderung memiliki arti negatif =)

    hubungan kita sebagai negara jiran memang banyak suka-dukanya, tapi saya percaya kita bisa saling berusaha untuk mengerti koq.

    salam,

    BalasPadam
  2. Hehehehehe...salah persepsi itu sering terjadi...gak masyalah kalau memang itu yang terjadi.
    Kesemuanya karena perkembangan yang berbeda-beda...(ceritanya saling berbalas jurnal ya?)..
    Yang penting saling percaya dan mengerti itu sutra (sudah) cukup antar 2 bangsa satu akar ini...oke?

    Salam yuuukkkkk

    BalasPadam
  3. Pernah satu hari ketika di expo perumahan, seorang pengunjung datang bertanya tentang sebuah rumah padaku (aku kerjanya menjual rumah) katanya "aku mau nanya yang ini, rumah 'A' " (sebutan Indonesia). Aku jadi bingung seketika. Rupanya yang ditanya ialah rumah jenis A (type A). Kami juga sukar memahami maksud antara satu sama lain, akhirnya kami berinteraksi dalam bahasa Inggeris. Lucu bukan. Semudah ABC pun lafalnya berbeza.

    BalasPadam
  4. Kita sentiasa cuba saling memahami..... Biasalah hidup berjiran

    BalasPadam
  5. Yukkk..... Salam damai.

    Itulah indahnya bermutliply, tulisan sahabat langsung memberi ide pada sahabat lain.

    BalasPadam
  6. menarik sekali jounal ini Mas Fazli (lebih mesra kalo dipanggil Mas githu yah) hehehe...memang Malaysia & RI itu punya hubungan budaya, bahasa dan darah. kalo ada sekalipun ketidakpuasan hanyalah kerana politik, tetapi didlm hati kecil tersimpan perasaan persahabatan dan persaudaran (umpama pepatah melayu air dicincang tak akan putus).

    Pernah saya terbaca di akhbar (koran) sewaktu itu berlansungnya acara perlawanan sepak bola (bola sepak kalo di Malaysia) Piala Tiger antara Malaysia & Indonesia. Seorang pemain Indonesia berkata kepada wartawan 'Pak kita bisa kalah kepada sesiapa pun! tetapi bukan kalah kepada Malaysia'......ga pasti apakah maksudnya! tetapi itulah bukti keakhraban dua negara lucu ini......'sama! tapi tak serupa'........hehehehe....

    BalasPadam
  7. panggil apa pun takpe..........
    iye... kita ini mengaku saudara tapi masing-masing punya ego yang tinggi.

    BalasPadam
  8. Ibaratnya hubungan dua bangsa ini seperti 'Benci Tapi Rindu'...hehehehehee. ayo balas berbalas jurnal supaya ramai jagad multiply ini.

    BalasPadam
  9. Tapi benci kalau di Indonesia maknanya mengganda...
    1. benci = memang tidak suka
    2. benci = kependekan dari 'benar-benar cinta'
    semoga hubungan dua bangsa ini adalah 'benci' makna kedua..hehehehehe

    BalasPadam
  10. Tulisan Adik Mas Fazli (boleh saya panggil cara Jogja kan?) sangat menyentuh hati saya...
    Terkadang hidup bertetangga memang sering timbul masalah ya..jika kita tak pandai-pandai membawa diri...
    Adik Mas Fazli boleh bayangkan..bahwa Indonesia terdiri dari amat sangat beragam suku bangsa..mungkin ada sekitar 500 suku..tersebar di 17.000 pulau-pulau...
    Mereka berbicara dengan bahasa dan loghat serta dialect yang sangat berbeda-beda...
    Pada tahun 1928, kaum Pemuda menyatukan tekad menjadikan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan...
    Syarat bahasa persatuan adalah mesti baku, tidak terdengar lagi loghat kedaerahan, dan dapat menyatukan begitu banyak puak...
    HAMKA menyatakan..."Anak Deli atau Riau itu (bahasa Melayu) kini telah berbapa Minang dan beribu Jawa, berpaman Bugis dan beradik Maluku. Ia tidak lagi terdengar berpelat Melayu (Deli/Riau) karena ia telah jadi Bahasa Pemersatu..Bahasa Indonesia"
    Memang jika seseorang bercakap dengan loghat setempat, bagi penutur daerah lain (Papua, atau Flores) akan kesulitan..jadi ia mesti baku..A terbaca A... bukan E, atau O..
    Mudah-mudahan kesefahaman bertetangga kita makin baik kedepannya...
    Maaf jika bicara terlalu banyak....
    Matur Nuwun (Terima Kasih) adik Mas...

    BalasPadam
  11. Panggillah apa saja bang.. cara Jogja boleh, cara Madura pun boleh asal saja sedap didengar. Tulisan saya ini biasa-biasa saja, sekadar suka-suka....
    Saya sangat mengerti dengan keadaan di Indonesia. Sebuah negara yang mempunyai kekuatan tersembunyi. Bila saya mengenangkan nasib bangsa dan Bahasa Melayu di Malaysia, kadang terfikir ada baiknya kalau dari dulu Malaysia mengikut saja perjuangan Burhanuddin Helmi.
    Tapi apa boleh dibuat. Nasib kita telah ditentukan.
    Terima kasih kerana berbicara banyak .... dan Jangan malu untuk datang lagi....... ;-)
    Matur Nuwun...

    BalasPadam
  12. Setuju............ semoga silaturrahim antara dua negara serumpun terjalin kukuh. Amien

    BalasPadam
  13. Kalau gitu, maknanya sama juga dengan di Malaysia. saya pilih yang kedua.

    BalasPadam
  14. weii mat hang pernah dok di Kedah no...ni jurnal yang sempoi ni....sangat to the point memang kita sudah begitulah Indonesia vs Malaysia...boleh kalah dengan mana-mana team negara lain tapi dengan yang negara satu ini jangan...entah aku pun berjiwa begitu terkadang lucu juga tapi aku rasa itulah yang terjadi dalam famili abang, kakak, adik yang sering berantem kemudian damai lagi....

    BalasPadam
  15. PokDin!..En. Fazli kita nie tak jumpa kot tempat kita berantem.....
    : P

    BalasPadam
  16. Kalau begitu, aku panggil awak sekarang "CAK FAZ" setuju?
    (Cak..itu panggilan khas Surabaya, Jawa Timur untuk Cik, Mas, Bang)
    Okey?

    BalasPadam
  17. iyolah tue dia tak jumpo agak e h ehe he he he he...tempat itu ngeri...ada si bongkok, madun, skuang-kuang, Melayu ex palapes TLDM he hehe he

    BalasPadam
  18. Bang Fazli.. itu lagu Mudiak Arau nya sudah bisa di akses. Selamat mendengarkan :)

    BalasPadam
  19. ok..... Terima kasih banyak-banyak. Jasamu dikenang

    BalasPadam
  20. Kemana aja Fazly..
    maleh manulih jurnal agaknyo awak tue...
    seboook ke...maleh ke...

    BalasPadam
  21. Salam dari Indonesia. Walau Indonesia, aku juga punya darah melayu kok.. hehehe

    BalasPadam
  22. Indonesia negeri khatulistiwa...

    BalasPadam
  23. Hmm.... Tampaknya hati kamu sedang berperang antara benci dan rindu dengan Indonesia. Kok bisa begitu ya?

    Salam kenal dari Jakarta

    BalasPadam
  24. Sanal kenal juga dari saya. Eratkan hubungan kita sesama Nusantara. Insyaallah

    BalasPadam
  25. Sebenarnya kalau penuturan bahasa Indonesia sesuai dgn EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) mungkin orang Malaysia dapat Faham dan mengerti bahasa Indonesia, tapi di Televisi (seperti di Sinetron Indonesia) suka memakai bahasa Gaul (Bahasa Rujak) yang kadang orang daerah diluar Jakarta (Luar Pulau Jawa) juga tidak mengerti dan paham maknanya.

    BalasPadam
  26. betul tu. Sampai kami pun sudah mengganggap bahasa yang diucapkan dalam sinetron di tv itu adalah bahasa Indonesia baku.

    BalasPadam